Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Ticker

6/recent/ticker-posts

Pembinaan Teknis Perhutani Perkuat Produktivitas Getah Pinus Secara Berkelanjutan oleh Kadivre Jatim

 


BONDOWOSO,Pena Nusantara - PERHUTANI (12/04/2026) | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bondowoso melaksanakan kegiatan pembinaan produksi getah pinus yang dipimpin langsung oleh Kepala Divisi Regional Perum Perhutani Jawa Timur kepada seluruh jajaran operasional lapangan. Kegiatan ini melibatkan Asisten Perhutani (Asper), Kepala Resor Pemangkuan Hutan (KRPH), Mandor Produksi Getah Pinus, Kelompok Tani Sadap (KTS), serta petani sadap di wilayah kerja KPH Bondowoso.


Pembinaan ini diarahkan untuk mengoptimalkan produksi getah pinus melalui pendekatan teknis berbasis ilmu silvikultur, fisiologi pohon, dan prinsip pengelolaan hutan lestari (sustainable forest management). Fokus utama kegiatan mencakup peningkatan efisiensi produksi tanpa mengabaikan keseimbangan fungsi produksi, ekologi, dan sosial hutan sebagai suatu ekosistem yang dinamis.


Administratur Perhutani KPH Bondowoso, Misbakhul Munir, dalam sambutannya menegaskan bahwa getah pinus merupakan komoditas hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang memiliki nilai ekonomi strategis serta kontribusi signifikan terhadap pendapatan perusahaan dan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan. Ia menekankan pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam memahami teknik penyadapan berbasis fisiologi tanaman, khususnya dalam pengaturan intensitas luka sadap, kedalaman koakan, serta interval penyadapan yang proporsional guna menjaga keseimbangan antara produksi resin dan pertumbuhan vegetatif pohon.


“Penerapan teknik sadap yang sesuai standar operasional prosedur (SOP) dan kaidah silvikultur menjadi kunci dalam menjaga produktivitas tegakan secara berkelanjutan, tanpa menurunkan kualitas tapak maupun daya dukung lingkungan,” ujarnya.


Sementara itu, Kepala Divisi Regional Perum Perhutani Jawa Timur, Wawan Triwibowo, dalam arahannya menekankan strategi peningkatan produksi getah pinus melalui pendekatan intensifikasi berbasis potensi tegakan serta ekstensifikasi terbatas yang mempertimbangkan kesesuaian lahan. Ia juga menggarisbawahi pentingnya pengelolaan tegakan berdasarkan kelas umur (KU), kualitas tapak (site quality), serta penerapan metode sadap yang adaptif terhadap kondisi biofisik setempat.


Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa produktivitas resin sangat dipengaruhi oleh faktor internal tanaman seperti umur, vigor, dan kondisi fisiologis, serta faktor eksternal seperti iklim mikro, kesuburan tanah, dan teknik penyadapan. Oleh karena itu, diperlukan penerapan prinsip tree health management melalui pengendalian luka sadap, pencegahan infeksi patogen, serta rotasi bidang sadap guna meminimalkan stres fisiologis dan menjaga kontinuitas produksi.


“Monitoring berkala berbasis data lapangan serta evaluasi kinerja produksi menjadi instrumen penting dalam memastikan keberlanjutan produksi getah pinus yang optimal dan lestari,” tegasnya.


Pada kesempatan yang sama, perwakilan Kelompok Tani Sadap (KTS), Yoes Kadarusman, menyampaikan apresiasi atas pembinaan yang diberikan. Ia menilai materi yang disampaikan memberikan pemahaman teknis yang lebih komprehensif, khususnya dalam penerapan metode penyadapan yang efektif, efisien, dan ramah terhadap tegakan.


Melalui kegiatan ini diharapkan terwujud peningkatan produktivitas getah pinus yang optimal dan berkelanjutan, didukung oleh kompetensi sumber daya manusia, penerapan teknologi tepat guna, serta pengelolaan hutan berbasis prinsip silvikultur yang adaptif. Dengan demikian, fungsi hutan sebagai sistem penyangga kehidupan (life support system) tetap terjaga sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat sekitar hutan.

 (Iponk)

Posting Komentar

0 Komentar