Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Ticker

6/recent/ticker-posts

Pencurian Sapi di Glenmore Terbongkar, Sorotan Tajam ke Lemahnya Siskamling Desa

 


Banyuwangi,Pena Nusantara – Terungkapnya kasus pencurian sapi di Kecamatan Glenmore oleh Unit IV Satreskrim Polresta Banyuwangi patut diapresiasi. Dua tersangka berhasil diamankan, masing-masing S (43) sebagai pelaku utama dan AA (44) sebagai penadah. Namun di balik keberhasilan tersebut, muncul sorotan tajam terhadap lemahnya sistem keamanan lingkungan di tingkat desa.

 

Kasus ini bermula dari laporan warga Desa Tulungrejo yang kehilangan satu ekor sapi jenis Limosin pada akhir Januari lalu. Dari penyelidikan yang dilakukan, polisi berhasil mengungkap peran pelaku hingga alur penadahan. Meski demikian, dugaan adanya pola kejahatan yang lebih terorganisir masih terus didalami.

 

Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol Dr. Rofiq Ripto Himawan, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan berhenti pada penangkapan semata. Polisi berkomitmen menelusuri kemungkinan adanya jaringan yang lebih luas.

 

“Pencurian hewan ternak bukan hanya tindak kriminal biasa, tetapi ancaman serius bagi mata pencaharian warga. Kami akan kembangkan kasus ini hingga tuntas,” tegasnya.

 

Namun, di sisi lain, Komunitas Info Warga Banyuwangi (IWB) menilai kasus ini juga menjadi cerminan melemahnya sistem keamanan berbasis masyarakat, khususnya Siskamling yang selama ini dikenal sebagai garda terdepan di lingkungan pedesaan.

 

“Ironisnya, Siskamling sekarang lebih sering hanya jadi simbol. Pos ronda ada, jadwal ada, tapi pelaksanaannya kerap kosong. Padahal, kejahatan seperti pencurian ternak ini biasanya memanfaatkan celah saat lingkungan benar-benar lengah,” tegas perwakilan IWB.

 

Menurut IWB, keberadaan Siskamling bukan sekadar rutinitas jaga malam, melainkan sistem pertahanan sosial yang memiliki efek pencegahan kuat. Ketika ronda berjalan aktif dan kolektif, ruang gerak pelaku kejahatan akan semakin sempit.

 

“Ini bukan sekadar soal jaga malam, tapi soal menjaga ruang hidup bersama. Kalau warga kompak, pelaku akan berpikir dua kali. Tapi kalau lingkungan sepi dan cuek, itu sama saja membuka pintu bagi pencuri,” lanjutnya.

 

Lebih jauh, IWB juga mendorong pemerintah desa untuk tidak hanya sebatas mengimbau, tetapi melakukan pengawasan dan evaluasi nyata terhadap pelaksanaan Siskamling di lapangan.

 

“Kalau Siskamling hanya hidup di atas kertas, maka yang akan terus ‘hidup’ justru kejahatan itu sendiri,” pungkasnya.

 

Kasus ini menjadi pengingat bahwa keamanan bukan hanya tanggung jawab aparat, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat. Tanpa sinergi antara warga, pemerintah desa, dan aparat penegak hukum, celah kejahatan akan selalu terbuka.

 

Jika tidak ada pembenahan serius, bukan tidak mungkin kejadian serupa akan terus berulang—dan yang terancam bukan hanya ternak warga, tetapi juga rasa aman di lingkungan pedesaan itu sendiri.

(Iponk)

Posting Komentar

0 Komentar